Rabu, 10 November 2010

Deteksi Dini Tumbuh Kembang Balita

Masa yang paling menentukan dalam proses tumbuh kembang seorang anak ialah masa di dalam kandungan ibunya dan kira-kira dua tahun sesudahnya, pada saat mana sel otak sedang tumbuh dan menyempurnakan diri secara pesat sekali untuk kemudian bertambah lambat sedikit demi sedikit sampai anak berumur 5 tahun.
Dapat dimengerti bahwa dalam upaya menurunkan masalah tumbuh kembang seorang anak harus dilakukan upaya pencegahan sedini mungkin, yakni sejak pembuahan, janin di dalam kandungan ibu, pada saat persalinan sampai dengan masa-masa kritis proses tumbuh kembang manusia yaitu masa di bawah usia lima tahun.
1. Pengertian Deteksi Dini Tumbuh Kembang balita
Deteksi dini merupakan upaya penjaringan yang dilaksanakan secara komprehensif untuk menemukan penyimpangan tumbuh kembang dan mengetahui serta mengenal faktor resiko (fisik,biomedik,psikososial) pada balita.
2. Kegunaan deteksi dini tumbuh kembang balita
Kegunaannya adalah untuk mengetahui penyimpangan tumbuh kembang balita secara dini, sehingga upaya pencegahan, upaya stimulasi dan penyembuhan serta memulihkan dapat dapat diberikan dengan indikasi yang jelas sedini mungkin pada masa-masa kritis proses tumbuh kembang. Upaya-upaya tersebut diberikan diberikan sesuai dengan umur perkembangan anak, dengan demikian dapat tercapai kondisi tumbuh kembang yang optimal.
3. Pelaksanaan deteksi dini tumbuh kembang balita
Upaya deteksi dini dapat dilaksanakan oleh tenaga propesional, kader dan orang tua atau anggota keluarga lain yang mampu dan terampil dalam melaksanakan deteksi dini. Kegiatan ini dapat dilakukan di pusat-pusat pelayanan kesehatan, posyandu, di sekolah-sekolah dan lingkungan rumah tangga.

4. Alat untuk melakukan deteksi dini tumbuh kembang balita
Alat untuk deteksi dini tumbuh kembang balia ini berupa tes skrining yang telah distandarisasi untuk menjaring anak yang mempunyai kelainan dari mereka yang normal. Tes skrining yang peka, dapat meramalkan keadaan anak dikemudian hari

BAHAYA ROKOK ??

Apa sih bahaya merokok? Pertanyaan ini pasti banyak berputar disekitar kalian yang belom tau jawabannya, ehhmm, kalo yang udah tau jawabannya yach udah ga’ papa Hehehe, oche dee, ini nie mo dibagiin bahaya merokok dan bahan pembuat rokok yang perlu kalian tahu.
Rokok bisa bikin kecanduan, bahkan bisa lebih parah daripada bahaya narkoba. Banyak dari kita meremehkan bahaya rokok buat kesehatan kita dan dengan pasti meyakinkan pada orang yang melarang bahwa kita bisa berhenti suatu saat. Hmmmh, kenyataannya siswa SMU yang ngerokok 1-5 batang sehari, 70 % masih ngerokok 5 taon kemudian. Lebih dari separo yang ngerokok sejak SMP bahkan ga’ berhasil berhenti merokok (hmm…apa ini pengaruh iklan rokok ya?).
Sedikit catatan bagi Perokok Aktif :
Semakin muda seseorang mulai merokok, maka semakin besar peluangnya menjadi perokok berat pas udah gedhe ato dewasa.

Bahaya Merokok :
• Asap Rokok mengandung 4o bahan kimia penyebab kanker, sejumlah kecil racun seperti arsenikum, dan sianida serta lebih dari 4000 bahan kimia lain.
• Saat merokok, serangkaian bahan kimiawi ini menjelajah ke organ vital tubuh macam otak, paru-paru, jantung dan pembuluh darah. Udah gitu, tubuh kita jadi terpolusi bahan kimiawi yang bisa memicu Kanker dan Kecanduan.
• (Sttt… banyak yang tau, merokok dan kanker paru-paru itu berhubungan erat. Belom lagi kematian akibat merokok yang banyak ditemukan).
• Asap rokok juga mengandung Karbon Monoksida yang kalo dihirup bakalan nge-ganti fungsi Oksigen di sel – sel darah terus ngambil zat makanan dari jantung, otak, dan organ tubuh lain. Selain itu, dengan merokok, kita juga mematikan indra pengecap dan pencium sehingga kita ga’ bisa lagi ngerasain lezatnya makanan seperti biasanya.
• Unsur utama dalam rokok yaitu Nikotin. Nikotin ini ngerangsang zat kimia di otak yang mengakibatkan kecanduan. Zat kimia ini merangsang kelenjar adrenalin untuk memproduksi hormon yang mengganggu jantung akibat tekanan darah dan denyut jantung meningkat.

Belom lagi orang-orang disekitar kita yang ikut juga terkena asap rokok meski mereka sendiri ga’ ngerokok. Mereka ini disebut Perokok Pasif.
Bahaya Perokok Pasif :
• Berisiko juga terkena kanker paru-paru dan penyakit jantung.
• Bagi perokok pasif yang menderita penyakit pernafasan atau penyakit jantung, serta orang tua, mereka bahkan lebih rentan dengan asap rokok yang kita hembusin.
• Anak-anak berusia kurang dari 1 taon juga bakal lebih sering masuk Rumah Sakit karena ganguan penyakit pernafasan.
• Selain itu, anak-anak yang jadi perokok pasif juga beresiko menderita infeksi telinga, pneumonia, dan bronkitis.
• Terakhir, seorang ibu yang merokok – selama dan setelah kehamilan – berisiko 3x lebih besar menyebabkan sang bayi meninggal akibat sindrom kematian mendadak.

FAKTOR MANUSIA YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENULARAN DBD

Secara teoritis ada beberapa faktor yang berhubungan dengan penularan DBD, yaitu :
1. Kelompok Umur
Kelompok umur akan mempengaruhi peluang terjadinya penularan penyakit. Dari berbagai hasil penelitian menunjukan kelompok umur yang paling banyak terserang DBD adalah kelompok umur > 15 tahun (Gubler, D.J, 1988).
2. Suku bangsa / ras dan Kerentanan
Setiap suku bangsa/ras mempunyai sifat dan kebiasaan masing-masing yang berhubungan dengan penularan DBD. Hal ini berkaitan dengan keadaan sosial ekonomi, adat kebiasaan dan kebudayaan suatu masyarakat tertentu. Di Malaysia misalnya, DBD lebih banyak ditemukan di ras Cina dibandingkan dengan ras etnik lainnya (Lam, S.K, 1995) dan setiap individu mempunyai kerentanan yang berbeda-beda terhadap penyakit.
3. Keadaan sosial ekonomi
Kondisi sosial ekonomi mempengaruhi pola perilaku manusia yang menyebabkan transmisi Dengue, termasuk perilaku dalam penyimpanan air dalam rumah dan kepadatan manusia yang terjadi di pusat-pusat kota tropik yang memudahkan penularan. Sebagi contoh, kurangnya AC di daerah tropik membuat masyarakat duduk di luar rumah pada pagi dan sore hari, waktu diaman merupakan puncak nyamuk vektor Dengue aktif menggigit (Gulber, D.J. 1988).
4. Kepadatan penduduk dan Mobilitas penduduk
Dalam aspek kependudukan ternyata masalah kepadatan dan mobilitas penduduk yang padat akan memudahkan penularan DBD karena berkaitan dengan jarak terbang nyamuk penularnya. Dari beberapa hasil penelitian kejadian epidemi DBD banyak terjadi pada daerah berpenduduk padat. Pergerakan penduduk yang tinggi memudahkan penyebarluasan DBD dari satu tempat ke tempat lain. Sedangkan dalam aspek lingkungan prevalensi DBD sangat dipengaruhi oleh :
a. Kualitas pemukiman, jarak antar rumah, pencahayaan, bentuk rumah, bahan bangunan akan mempengaruhi penularan. Kualitas pemukiman yang kurang baik merupakan kondisi ideal untuk perkembangbiakan nyamuk vektor penyakit dan penularan penyakit.
b. Ketinggian tempat berpengaruh terhadap perkembangbiakan nyamuk dan virus DBD. Pada wilayah dengan ketinggian di atas 1.000 meter dari permukaan laut tidak ditemukan vektor penular DBD.
c. Curah hujan, akan menambah genangan air yang dapat dipakai sebagai tempat perindukan dan menambah kelembaban udara. Temperatur dan kelembaban selama musim hujan sangat kondusif untuk kelangsungan hidup nyamuk dewasa, yang juga meningkatkan kemungkinan kelangsungan hidup nyamuk yang terinfeksi. Peningkatan penularan DBD berhubungan dengan musim hujan (Gulber, D.J, 1988).

d. Iklim dan Temperatur berefek langsung terhadap aktifitas dan kemampuan vektor (Gulber D.J, 1988). Virus Dengue hanya endemik di wilayah-wilayah tropis dimana iklim dan temperatur memungkinkan untuk perkembangbiakan nyamuk. Temperatur tinggi sekitar 300C cenderung mempercepat replikasi virus.
e. Kepadatan nyamuk, perilaku dan kompetisi jumlah vektor nyamuk berpengaruh terhadap transmisi penularan. Ada 3 ukuran larva index yang digunakan yaitu house index, container index dan bruteau index. Ketiga index tersebut tidak ada yang memperlihatkan hubungan yang konsisten dengan penularan Dengue dalam hal nilai ambang. Beberapa petugas menggunakan batas 5% untuk house index Ae. Aegypti sebagai nilai ambang ungtuk penularan DBD (Gulber, D.J, 1988).
f. Program dan upaya pengawasan vektor nyamuk jangka panjang akan mempengaruhi terhadap perkembangbiakan vektor nyamuk dan penularan penyakit DBD.

Desa Siaga

Desa Siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri. Sebuah Desa dikatakan menjadi desa siaga apabila desa tersebut telah memiliki sekurang-kurangnya sebuah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) (Kepmenkes No.564/2006).
Poskesdes adalah Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dibentuk di desa dalam rangka mendekatkan/menyediakan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat desa. UKBM yang sudah dikenal luas oleh masyarakat yaitu Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), Warung Obat Desa, Pondok Persalinan Desa (Polindes), Kelompok Pemakai Air, Arisan Jamban Keluarga dan lain-lain (Depkes, 2007).
Untuk dapat menyediakan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat desa, Poskesdes memiliki kegiatan :
1) Pengamatan epidemiologi sederhana terhadap penyakit terutama penyakit menular yang berpotensi menimbulkan
2) Kejadian Luar Biasa (KLB) dan faktor resikonya termasuk status gizi serta kesehatan ibu hamil yang beresiko.
3) Penanggulangan penyakit, terutama penyakit menular dan penyakit yang berpotensi menimbulkan KLB serta faktor resikonya termasuk kurang gizi.
4) Kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana dan kegawatdarutan kesehatan.
5) Pelayanan medis dasar sesuai dengan kompetensinya.
6) Promosi kesehatan untuk peningkatan keluarga sadar gizi, peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), penyehatan lingkungan dan lain-lain.
Dengan demikian Poskesdes diharapkan sebagai pusat pengembangan atau revitalisasi berbagai UKBM yang ada di masyarakat desa. Dalam melaksanakan kegiatan tersebut, Poskesdes harus didukung oleh sumber daya seperti tenaga kesehatan (minimal seorang bidan) dengan dibantu oleh sekurang-kurangnya 2 orang kader. Selain itu juga harus disediakan sarana fisik berupa bangunan, perlengkapan dan peralatan kesehatan serta sarana komunikasi seperti telepon, ponsel atau kurir.
Untuk sarana fisik Poskesdes dapat dilaksanakan melalui berbagai cara/alternatif yaitu mengembangkan Polindes yang telah ada menjadi Poskesdes, memanfaatkan bangunan yang sudah ada misalnya Balai Warga/RW, Balai Desa dan lain-lain serta membangun baru yaitu dengan pendanaan dari Pemerintah (Pusat atau Daerah), donatur, dunia usaha, atau swadaya masyarakat.
Kriteria desa siaga meliputi :
1) Adanya forum masyarakat desa
2) Adanya pelayanan kesehatan dasar
3) Adanya UKBM Mandiri yang dibutuhkan masyarakat desa setempat
4) Dibina Puskesmas Poned
5) Memiliki system surveilans (faktor resiko dan penyakit) berbasis masyarakat.
6) Memiliki system kewaspadaan dan kegawat daruratan bencana berbasis masyarakat.
7) Memiliki system pembiayaan kesehatan berbasis masyarakat.
8) Memiliki lingkungan yang sehat.
9) Masyarakatnya ber perilaku hidup bersih dan sehat.
Tahapan desa siaga :
1) Bina yaitu desa yang baru memiliki forum masyarakat desa, pelayanan kesehatan dasar, serta ada UKBM Mandiri.
2) Tumbuh yaitu desa yang sudah lebih lengkap dengan criteria pada tahapan bina ditambah dengan dibina oeh puskesmas Poned, serta telah memiliki system surveilans yang berbasis masyarakat.
3) Kembang yaitu desa dengan criteria tumbuh dan memiliki system kewaspadaan dan kegawatdaruratan bencana serta system pembiayaan kesehatan berbasis masyarakat yang telah berjalan.
4) Paripurna yaitu desa yang telah memiliki seluruh criteria desa siaga.

Rabu, 07 Juli 2010

Demam Berdarah Dengue (DBD)

A. Definisi DBD
Demam dengue adalah penyakit infeksi akut yang sering kali muncul dengan gejala sakit kepala, sakit pada tulang, sendi dan otot, serta ruam merah pada kulit. Demam Berdarah Dengue (DBD) sendiri ditandai dengan empat manifestasi klinik yang utama yaitu demam tinggi, pendarahan, pembengkakan hati dan pada beberapa kasus yang parah terjadi kegagalan sirkulasi darah. Penyakit DBD adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui perantara vektor nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus yang ditandai dengan demam mendadak 2 – 7 hari tanpa penyebab yang jelas, lelah/lesu, gelisah, nyeri pada ulu hati, disertai dengan pendarahan pada kulit berupa bintik-bintik (ptechiae), lebam (echymosis) atau ruam (pupura). Kadang-kadang terjadi mimisan, muntah darah, kesadaran menurun atau rejan (shock). Penyakit ini merupakan salah satu masalah kesehatan yang utama karena dapat menyerang semua golongan umur dan menyebabkan kematian khususnya pada anak dan kejadian luar biasa ( wabah). Namun dalam decade terakhir terlihat adanya kecenderungan kenaikan proporsi penderita DBD pada orang dewasa.

B. Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue yang termasuk dalam genus Flavivirus grup famili Togaviridae. Virus ini mempunyai ukuran diameter sebesar 30 nanometer dan terdiri dari 4 serotip, yakni dengue (DEN) 1, DEN 2, DEN 3 serta DEN 4. virus yang ditularkan pada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, pada suhu 30 0C memerlukan 8 – 10 hari untuk menyelesaikan masa inkubasi ekstrinsik dari lambung sampai kelanjar ludah nyamuk tersebut. Sebelum demam muncul pada manusia, virus tersebut terlebih dahulu berada dalam darah 1 – 2 hari. Selanjutnya penderita berada dalam kondisi viremia selama 4-7 hari.

C. Penularan
Virus dengue (arbovirus) ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti betina. Dapat pula melaui gigitan nyamuk Aedes albopictus, namun di daerah perkotaan nyamuk tersebut bukan vektor utama. Sekali terinfeksi oleh arbovirus, maka seumur hidup nyamuk akan tetap terinfeksi dan dapat terus menularkan virus tersebut ke manusia. Nyamuk betina yang terinfeksi juga dapat menurunkan virus ke generasi berikutnya dengan cara tranmisi transovarial. Akan tetapi hal tersebut jarang terjadi dan tidak berpengaruh signifikan pada penularan ke manusia. Host dari virus yang paling utama adalah manusia, walaupun ada beberapa penelitian yang menyebutkan bahwa virus juga ditemukanpada monyet. Virus dengue bersirkulasi dalam tubuh manusia selama 2-7 hari atau selama demam terjadi. Dalam waktu 4-7 hari, virus dengue di tubuh penderita dalam keadaan viremia danpada masa itulah penularan terjadi. Apabila penderita digigit oleh nyamuk penular, maka virus dengue juga akan terhisap dalam tubuh nyamuk. Virus tersebut kemudian berada dalam lambung nyamuk dan akan memperbanyak diri selanjutnya akan berpindah ke kelenjar ludah nyamuk. Proses tersebut memakan waktu 8-10 hari sebelum virus dengue dapat ditularkan kembali ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi. Lama waktu yang dibutuhkan selama masa inkubasi ekstrinsik ini tergantung pada kondisi lingkungan, terutama factor suhu udara.

VEKTOR DBD

Vector penular penyakit DBD adalah nyamuk Aedes. Terdapat dua spesies Aedes yang menularkan virus dengue, yaitu Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kedua spesies ini ditemukan hamper di seluruh wilayah Indonesia, kecuali di wilayah dengan ketinggian > 1.000 m di atas permukaan laut. Di Indonesia Aedes aegypti merupakan vector utama yang paling berperan dalam penularan penyakit ini karena vektor tesebut hidup di dalam dan sekitar rumah sehingga kesempatan untuk kontak dengan manusia lebih besar, sedangkan Aedes albopictus hidup di kebun-kebun.
Nyamuk Aedes aegypti bias hidup di dekat manusia dan menyukai tempat-tempat gelap tersembunyi di dalam rumah sebagai tempat peristirahatannya. Larva nyamuk ini dapat ditemukan di dalam atau di dekat perumahan, di dalam kaleng atau tempat-tempat penyimpanan air yang relatif bersih yang digunakan untuk minum atau mandi. Sedangkan nyamuk Aedes albopictus berkembangbiak di dalam lubang-lubang pohon, lekukan tanaman, potongan batang bambu dan buah kelapa yang terbuka. Larvanya dapat hidup di dalam kaleng dan tempat penampungan air lainnya termasuk timbunan sampah di uara terbuka. Nyamuk tersebut memperoleh makanan dengan menghisap darah berbagai binatang.
Nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor penyakit DBD yang utama mempunyai sifat atau cirri-ciri sebagai berikut :
- Sangat domestik
- Senang tinggal di dalam ruangan
- Senang istirahat di tempat yang gelap dan lembab
- Senang hinggap pada benda-benda yang menggantung seperti baju, kelambu, dll.
- Menggigit pada pagi hari (09.00-12.00) dan sore hari (15.00-17.00).
- Hidup tersebar di daerah tropis dan dataran rendah. Tidak ditemukan pada ketinggian mulai 900 m di atas permukaan laut.
- Jarak terbang rata-rata 10-100 meter.

A. Morfopogi
Nyamuk Aedes aegypti dewasa berukuran lebih kecil dibandingkan dengan nyamuk Culex sp, memiliki warna dasar hitam dengan bintik-bintik putih pada nagian badannya terutama pada kaki dan dikenal dari bentuk morfologinya yang khas sebagai nyamuk yang mempunyai gambaran lira (lyre form) yang outih pada punggungnya. Probosis bersisik hitam palpi pendek dengan ujung hitam bersisik putih perak. Oksiput bersisik lebar, berwarna putih terletak memanjang. Tibia berwarna hitam seluruhnya. Tarsi belakang berlingkar putih pada segmen basal ke-1 sampai ke-4 dan ke-5 berwarna putih. Sayap bersisik hitam danmempunyai ukuran 2,5-3 mm.

B. Siklus Hidup Nyamuk
Nyamuk Aedes aegypti mengalami metamorfosia sempurna, yaitu telur-larva/jentik-pupa/kepompong-nyamuk dewasa. Nyamuk betina meletakan telurnya di atas permukaan airdalam keadaan menempel pada dinding tempat perindukannya. Stadium telur, larva dan pupa hidup di air. Seekor nyamuk betina dapat meletakan rata-rata 100 butir telur setiap kali bertelur.
Pada umumnya telur akan menetas menjadi larva/jentik dalam waktu kira-kira 2 hari setelat telur terendam air. Stadiumlarva/jentik biasanya berlangsung antara 2-4 hari. Pertumbuhan dari telur menjuadi nyamuk dewasa mencapai 9-10 hari. Suatu penelitian menunjukan bahwa rata-rata waktu yang diperlukan dalam stadium larva pada suhu 270 C adalah 6,4 hari dan pada suhu 23 – 260 C adalah 7 hari. Stadium berikutnya adalah pupa yang berlangsung 2 hari pada suhu 25 – 270 C. Kemudian selanjutnya menjadi dewasa dan melanjutkan siklus berikutnya. Dalam suasana yang optimal, perkembangan dari telur mejadi dewasa memerlukan waktu sedikitnya 9 hari. Umur nyamuk betina diperkirakan mencapai 2-3 bulan.


C. Habitat dan Tempat Berkembangbiak
Tempat perkembangbiakan yang disenangi oleh nyamuk Aedes aegypti adalah air jernih yang tidak berhubungan langsung dengan tanah dan berwarna gepal. Tempat berkembangbiak berada di dalam atau sekitar rumah maupun tempat-tempat umum dan biasanya tidak melebihi jarak 500 m dari rumah.
Tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti dibedakan menjadi :
 Tempat perindukan buatan, seperti bak air untuk wudhu, bak penampungan air, menara air, bak mandi/WC, drum/gentong/tempayan, buangan air kulkas atau dispenser, penampungan air bersih untuk minum/masak, vas bunga, perangkap semut, kaleng bekas, botol bekas, kendi di tempat pemakaman, tempat minum binatang, kotak meteran PAM, banbekas dan lain-lain.
 Tempat perindukan alami, seperti genangan air pada pelepah/ranting/dahan pohon, genangan air pada bambu/besi, batok kelapa dan lain-lain.

................

PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT

Konsep Dasar Puskesmas

Pengertian Puskesmas :
Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja.
1. Unit Pelksana Teknis
Sebagai Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota (UPTD), Puskesmas berperan menyelenggarakan sebagian dari tugas teknis oprasional dinas kesehatan kabupaten/kota dan merupakan unit pelaksana tingkat pertama serta ujung tombang pembangunan kesehatan di Indonesia.
2. Pembangunan Kesehatan
Pembangunan kesehatan adalah penyelenggaraan upaya kesehatan oleh bangsa Indonesia untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal.
3. Pertanggung Jawaban Penyelenggaraan
Penanggung jawab utama penyelenggaraan seluruh upaya pembangunan kesehatan di wilayah kabupaten/kota adalah dinas kesehatan kabupaten/kota, sedangkan Puskesmas bertanggung jawab hanya untuk sebagai upaya pembangunan kesehatan yang dibebankan oleh dinas kesehatan kabupatn/kota sesuai dengan kemampuannya.
4. Wilayah Kerja
Secara nasional, standar wilayah kerja Puskesmas adalah satu Kecamatan. Tetapi apabila di satu kecamatan terdapat lebih dari satu Puskesmas, maka tanggung jawab wilayah kerja dibagi antar Pusksmas, dengan memperhatikan keutuhan konsep wilayah (desa/kelurahan atau RW). Masing-masing Puskesmas tersebut secara operasional bertanggung jawab langsung kepada dinas kesehatan kabupaten/kota.

VISI
Visi pembangunan kesehatan yang diselenggrakan oleh Puskesmas adalah tercapainya Kecamatan Sehat menuju terwujudnya Indonesia Sehat. Kecamatan Sehat adalah gambaran masyarakat kecamatan masa depan yang ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan, yakni masyarakat yang hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan setinggi-tingginya.
Indikator Kecamatan Sehat yang ingin dicapai mncakup 4 indikator utama yakni :
1. Lingkungan Sehat
2. Perilaku Sehat
3. Cakupan pelayanan kesehatan yang bermutu, serta
4. Derajat kesehatan penduduk kecamatan.

MISI
Misi Pembangunan Kesehatan yang diselenggarakan oleh Puskesmas adalah mendukung tercapainya misi pembangunan kesehatan nasioanl. Misi tersebut adalah :
1. Menggerakan pembangunan berwawasan kesehatan di wilayah kerjanya.
Puskesmas akan selalu menggerakan pembangunan sektor lain yang diselenggarakan di wilayah kerjanya, agar memperhatikan aspek kesehatan, yaitu pembangunan yang tidak menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan, setidak-tidaknyaterhadap lingkungan dan perilaku masyarakat.
2. Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat di wilayah kerjanya.
Puskesmas akan selalu berupaya agar setiap keluarga dan masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah kerjanya makin berdaya di bidang kesehatan, melalui peningkatan pengtahuan dan kemampuan menuju kemandirian untuk hidup sehat.
3. Memelihara dan meningkatkan mutu, pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan Puskesmas akan selalu berupaya menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan standar dan memuaskan masyarakat, mengupayakan pemerataan pelayanan kesehatan serta meningkatkan efisiensi pengelolaan dana sehingga dapat dijangkauru oleh seluruh anggota masyarakat.
4. Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga dan masyarakat beserta lingkungannya.
Puskesmas akan selalu berupaya memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit, serta memulihkan kesehatan perorangan, keluarga dan masyarakat yang berkinjung dan yang bertmpat tinggal di wilayah kerjanya, tanpa diskriminasi dan dengan menerapkan kemajuan ilmu dan teknologi kesehatan yang sesuai. Upaya pemeliharaan dan peningkatan yang dilakukan Puskesmas mencakup pula aspek lingkungan dari yang bersangkutan.

TUJUAN
Tujuan pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh Pusksmas adalah mendukung tercapainya tujuan pembangunan kesehatan nasional yakni meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang yang bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dalam rangka mewujudkan Indonesia Sehat 2010.

FUNGSI
1. Pusat Penggerak Pembangunan Berwawasan Kesehatan
Puskesmas selalu berupaya menggerakan dan memantau penyelenggaraan pembangunan lintas sektor termasuk oleh masyarakat dan dunia usaha di wilayah kerjanya, sehingga berwawasan serta mendukung pembangunan kesehatan. Di samping itu Puskesmas aktif memantau dan elaporkan dampak kesehatan dari penyelenggaraan setiap program pembangunan di wiayah kerjanya. Khusus untuk pembangunan kesehatan, upaya yang dilakukan Puskesmas adalah mengutamakan pemeliharaan kesehatan dan mencegah penyakit tanpa mengabaikan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan.
2. Pusat Pemberdayaan Masyarakat
Puskesmas selalu berupaya agar perorangan terutama pemuka masyarakat, keluarga dan masyarakat termasuk dunia usaha memiliki kesadaran, kemauan dan kemampuan melayani diri sendiri dan masyarakat untuk hidup sehat, berperan aktif dalam memperjuangkan kepentingan kesehatan termasuk sumber pembiayaannya, serta ikut menetapkan, menyelenggarakan dan memantau pelaksanaan program kesehatan. Pemberdayaan perorangan, keluarga dan masyarakat ini diselenggarakan dengan memperhatikan kondisi dan situasi, khusunya sosial budaya masyarakat setmpat.
3. Pusat Pelayanan Kesehatan Starata Pertama
Puskesmas bertanggung jawab menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat pertama secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. Pelayanan kesehatan tingkat pertama yang menjadi tanggung jawab Puskesmas meliputi :
a. Pelayanan Kesehatan Perorangan
Pelayanan kesehatan perorangan adalah pelayanan yang bersifat pribadi (private goods) dengan tujuan utama menyembuhkan penyakit dan pemulihan kesehatan perorangan, tanpa mengabaikan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit. Pelayanan perorangan tersebut adalah rawat jalan dan untuk Puskesmas tertentu ditambah dengan rawat inap.
b. Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Pelayanan kesehatan masyarakat adalah pelayanan yang bersifat publik (public goods) dengan tujuan utama memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mncegah penyakit tanpa mengabaikan penymbuhan penyakit dan pemulihan kesehatan. Pelayanan kesehatan masyarakat tersebut antara lain adalah promosi kesehatan, pemberantasan penyakit, penyehatan lingkungan, perbaikan gizi, peningkatan kesehatan keluarga, keluarga berencana, kesehatan jiwa masyarakat serta berbagai program kesehatan masyarakat lainnya.
.......................

MASALAH TINJA

MASALAH TINJA/KOTORAN MANUSIA DI LINGKUNGAN KITA

Penanganan masalah Tinja bukan masalah sepela. Seseorang tiap harinya membuang tinja severat 125 – 250 gram. Jika saat ini penduduk Kec. Simpenan berjumlah sekitar 50.000 jiwa, maka setiap harinya bisa menghasilkan sekitar 12,5 ton tinja. Selain jumlahnya yang begitu banyak, tinja juga memiliki potensi dampak dari ke-4 kandungannya yang dapat merepotkan masyarakat :

1. MIKROBA
Tinja manusia mengandung mikrona yang sebagian diantaranya tergolong sebagai mikro patogen, seperti bakteri Salmonela typhi penyebab demam tifus, bakteri Vibrio cholera penyebab kolera, virus penyebab hepatitis A, dan vieus penyebab polio. Tinja manusia mengandung puluhan miliar mikroba, termasuk bakteri coli-tinja.
Tingkat pentyakit akibat kondisi sanitasi yang buruk di Indonesia sangat tinggi. Tifus mencapai 800 kasus per 100.000 penduduk, tertinggi di Asia. Diare mencapai 300 kasus per 1.000 penduduk. (ma’af itu data Depkes tahun 2006).


2. MATERI ORGANIK
Sebagian besar merupakan sisa dan ampas makanan yang tidak tercerna. Bentuknya dapat berupa karbohidrat, dapat pula berupaprotein, enzim, lemak, mikroba dan sel-sel mati. Akibatnya sekitar 75% sungai tercemar oleh materi organik dari buangan rumah penduduk. Air sungai yang tercemar bahan tersebut akan mengakibatkan air mengeluarkan bau tidak sedap dan berwarna hitam.

3. TELUR CACING
Seseorang yang cacingan akan mengeluarkan tinja yang mengandung telur-telur cacing. Beragam cacing dapat dijumpai di perut kita. Sebut aja cacing cambuk, cacing gelang, cacing tambang dan cacing kermi. Satu garam tinja berisi ribuan telur cacing yang siap berkembang biak di perut orang lain. Ma’af, anak cacingan adalah kejadian yang dianggap biasa di Indonesia. Penyakit ini kebanyakan diakibatkan cacing cambuk, cacing gelang, cacing kermi. Prevalensinya bisa mencapai 70 % dari balita.

4. NUTRIEN
Umumnya merupakan senyawa nitrogen (N) dan senyawa fosfat (P) yang dibawa sisa-sisa protein dan sel-sel mati. Nitrogen keluar dalam bentuk senyawa amonium, sedangkan fosfor dalam bentuk fosfat. Satu liter tinja manusia mengandung amonium sekittar 25 mg dan fosfat seberat 30 mg. Senyawa nutrien memacu pertumbuhan gangga (algae). Akibatnya, warna air menjadi hijau. Gangga menghabiskan oksigen dalam air sehingga ikan dan hewan air lainnya mati. Fenomena yang disebut eutrofikasi ini mudah dijumpai, termasuk di waduk, danau maupun kolam-kolam bahkan genangan air pembuangan yang tergenang yang tidak mengalir !!


Semua tahu, timja dapat membawa banyak masalah. Sayangnya, tidak semu amau dan mampu berbuat yang tepat. Berbagai contoh masalah sanitasi jamban dan tinja dapat kita jumpai di kawasan pemukiman. Jangan hanya menuding kawasan kumuh. Masalah sanitasi juga ada di wilayah pemukiman elit. Jangan juga hanya menuduh si miskin, masalah sanitasi dapat pula diakibatkan si mampu. Bahkan petugas juga bisa keliru. Misalnya ??

- MCK yang tidak berfungsi. Selain usang atau tidak terawat, banyak juga akibat tidak ada air. Yang lebih menyedihkan, ada MCK tidak pernah dapat dipergunakan sejak persemiannya. Boleh jadi akibat salah konstruksi atau mungkin masyarakatnya yang belum siap.

- Septic tank bocor. Akibatnya, sekitar 70% air tanah di daerah perkotaan sudah tercemar oleh bakteri coli-tinja. Padahal separuh penduduk perkotaan masih menggunakan air tanah untuk memenuhi kebutuhan air hariannya.
- Jamban yang asal-asalan. Ada 35% jamban di kawasan perkotaan yang tidak ada air bersih, tidak ada atap bahkan tidak tersambung ke septik tank atau sejenisnya. Contohnya, jamban “helikopter” di pinggiran sungai atau jamban rumah yang mengalirkan tinjanya ke sungai yang berada di dekatnya.
- Saluran seloka tersumbat. Walau harusnya mengalirkan air hujan, selokan nyatanya juga digunakan untuk menampung air kakis dan juga sampah. Akhirnya selokanpun jadi sarang dari berbagai sarang penyakit.
- Mencuci dan mandi disungai tercemar. Akibat keterbatasan akses air bersih penduduk maíz banyak yang menmanfaatkan air sungai untuk keperluan mandi dan mencuci. Padahal sungai-sungai tersebut umumnya sudah tercemar.
- Luang air besar sembarangan. Lebih dari 12 % penduduk perkotaan sama sekali tidak memiliki akses ke sarana jamban (bagaiaman yg di desa ¿?). artinya belasan juta penduduk perkotaan juga maíz membuang tinja langsung di kebun, sekolah, ataupun sungai.



TANPA JAMBAN PEREMPUAN LEBIH DIRUGIKAN

Suevei di Madang menunjukan bawhwa soal sanitasi merupakan prioritas nomor dua untuk kaum perempuan. Bagi kaum laki-laki, sanitasi hanya menempati prioritas ke delatan. Selain itu dalam banyak komunitas, perempuanlah yang mengusulkan bahwa keluarga harus memiliki jamban di rumah. Kenapa ??


Dibandingkan laki-laki, perempuan lebih butuh tempat yang aman dan nyaman untuk buang air, dan tempat itu harus bebas dari penglihatan orang lain. Itu sebabnya, perempuan lebih mendambakan adanya jamban yang tertutup, entah di dalam atau di dekat rumah. Seorang ibu juga ingin memastikan bahwa dirinya dan anknya bebas buang air kapan saja di tempat ayang aman, walaupun dilakukan di malam hari. Perempuan juga yang paling sering bertanggung jawab atas kebersihan jamban keluarga. Mereka akhirnya lebih tahu pilihan jamban yang paling tepat sesuai kebiasaan keluarga, ketersediaan air, dan lain sebagainya. Karena itu, perempuan patut dilibatkan dalam upaya peningkatan layanan sanitasi.


(Disadur dari : sanitasi, POTRET, HARAPAN DAN PELUANG, BAPENAS`2006)

Rumah Sehat

Rumah Sehat
Rumah pada dasarnya merupakan tempat hunian yang sangat penting bagi kehidupan setiap orang. Rumah tidak sekedar sebagai tempat untuk melepas lelah setelah bekerja seharian, namun didalamnya terkandung arti yang penting sebagai tempat untuk membangun kehidupan keluarga sehat dan sejahtera. Rumah yang sehat dan layak huni tidak harus berwujud rumah mewah dan besar namun rumah yang sederhana dapat juga menjadi rumah yang sehat dan layak dihuni Rumah sehat adalah kondisi fisik, kimia, biologi didalam rumah dan perumahan sehingga memungkinkan penghuni atau masyarakat memperoleh derajat kesehatan yang optimal. Untuk menciptakan rumah sehat maka diperlukan perhatian terhadap beberapa aspek yang sangat berpengaruh, antara lain:
a. Sirkulasi udara yang baik.
b. Penerangan yang cukup.
c. Air bersih terpenuhi.
d. Pembuangan air limbah diatur dengan baik agar tidak menimbulkan pencemaran.
e. Bagian-bagian ruang seperti lantai dan dinding tidak lembab serta tidakterpengaruh pencemaran seperti bau, rembesan air kotor maupun udara kotor.


PERSYARATAN RUMAH SEHAT
Persyaratan Kesehatan Rumah Tinggal menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : 829/Menkes/SK/VII/1999 adalah sebagai berikut:
1. Bahan Bangunan
a. Tidak terbuat dari bahan yang dapat melepaskan zat-zat yang dapat membahayakan kesehatan, antara lain sebagai berikut :
- Debu Total tidak lebih dari 150 µg m3
- Asbes bebas tidak melebihi 0,5 fiber/m3/4jam
- Timah hitam tidak melebihi 300 mg/kg
b. Tidak terbuat dari bahan yang dapat menjadi tumbuh dan berkembangnya mikroorganisme patogen.

2. Komponen dan penataan ruang rumah
Komponen rumah harus memenuhi persyaratan fisik dan biologis sebagai berikut:
a. Lantai kedap air dan mudah dibersihkan
b. Dinding
- Di ruang tidur, ruang keluarga dilengkapi dengan sarana ventilasi untuk pengaturan sirkulasi udara
- Di kamar mandi dan tempat cuci harus kedap air dan mudah dibersihkan
c. Langit-langit harus mudah dibersihkan dan tidak rawan kecelakaan
d. Bumbung rumah yang memiliki tinggi 10 meter atau lebih harus dilengkapi dengan penangkal petir
e. Ruang di dalam rumah harus ditata agar berfungsi sebagai ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, ruang tidur, ruang dapur, ruang mandi dan ruang bermain anak.
f. Ruang dapur harus dilengkapi dengan sarana pembuangan asap.

3. Pencahayaan
Pencahayaan alam atau buatan langsung atau tidak langsung dapat menerangi seluruh bagian ruangan minimal intensitasnya 60 lux dan tidak menyilaukan.

4. Kualitas Udara
Kualitas udara di dalam rumah tidak melebihi ketentuan sebagai berikut :
a. Suhu udara nyaman berkisar antara l8°C sampai 30°C
b. Kelembaban udara berkisar antara 40% sampai 70%
c. Konsentrasi gas SO2 tidak melebihi 0,10 ppm/24 jam
d. Pertukaran udara
e. Konsentrasi gas CO tidak melebihi 100 ppm/8jam
f. Konsentrasi gas formaldehide tidak melebihi 120 mg/m3
5. Ventilasi
Luas penghawaan atau ventilasi a1amiah yang permanen minimal 10% dari luas lantai.

6. Binatang penular penyakit
Tidak ada tikus, kecoa bersarang di rumah.

7. Air
a. Tersedia air bersih dengan kapasitas minmal 60 lt/hari/orang
b. Kualitas air harus memenuhi persyaratan kesehatan air bersih dan air minum sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
8. Tersediannya sarana penyimpanan makanan yang aman dan hygiene.
9. Limbah
b. Limbah cair berasal dari rumah, tidak mencemari sumber air, tidak menimbulkan bau dan tidak mencemari permukaan tanah.
c. Limbah padat harus dikelola agar tidak menimbulkan bau, tidak menyebabkan pencemaran terhadap permukaan tanah dan air tanah.

10. Kepadatan hunian ruang tidur
Luas ruang tidur minimal 8m2 dan tidak dianjurkan digunakan lebih dari dua orang tidur dalam satu ruang tidur, kecuali anak dibawah umur 5 tahun.
Masalah perumahan telah diatur dalam Undang-Undang pemerintahan tentang perumahan dan pemukiman No.4/l992 bab III pasal 5 ayat l yang berbunyi “Setiap warga negara mempunyai hak untuk menempati dan atau menikmati dan atau memiliki rumah yang layak dan lingkungan yang sehat, aman , serasi, dan teratur”
Bila dikaji lebih lanjut maka sudah sewajarnya seluruh lapisan masyarakat menempati rumah yang sehat dan layak huni. Rumah tidak cukup hanya sebagai tempat tinggal dan berlindung dari panas cuaca dan hujan, Rumah harus mempunyai fungsi sebagai :
 Mencegah terjadinya penyakit
 Mencegah terjadinya kecelakaan
 Aman dan nyaman bagi penghuninya
 Penurunan ketegangan jiwa dan sosial

Kamis, 01 Juli 2010

Vektor Malaria


TEMPAT PERINDUKAN NYAMUK MALARIA




Peran suatu spesies sebagai vektor malaria dapat diperkirakan dengan melihat aspek bionomik (Takken, 1991) :

  1. Kepadatan spesies
  2. Umur nyamuk (longevity)
  3. Kerentanan spesies terhadap infeksi malaria lokal dan kemampuannya untuk menyebarkan penyakit malaria
  4. Perilaku mencari mangsa (antrofilik - zoofilik)
  5. Perilaku istrrahat (eksofilik - endofilik)
  6. Tempat mencari mangsa (eksofagik - endofagik)
  7. Penyebaran
  8. Musim dan Iklim

Vektor utama di Indonesia :
- An. sundaicus
- An. subciptus
- An. barbirostris
- An. balabacensis
- An. maculatus
- An. aconitus

Anopheles sundaicusSlide 5
(Rodenwaldt, 1925) :
-Lebih senang menghisap darah orang daripada binatang
-Aktif menggigit sepanjang malam, tetapi paling banyak ditangkap antara pukul 22.00 - 01.00
-Lebih banyak ditemukan menggigit orang diluar rumah daripada didalam rumah
-Pada waktu malam nyamuk masuk kedalam rumah untuk mencari darah, hinggap di dinding baik sebelum maupun sesudah menghisap darah, perilaku istirahat nyamuk ini sangat berbeda antara satu dengan lokasi lainnya
-Jarak terbang nyamuk betina cukup jauh, pernah dapat ditangkap di tempat lebih 3 km dari tempat perindukan (Garut, 1981)
-Berkembang biak di air payau, dengan kadar garam optimum antara 12 – 18 ‰, meski tidak begitu tinggi, jentik nyamuk dapat ditemukan pada kadar garam dibawah 5 ‰, dan bila kadar garam mencapai 40 ‰, maka jentik akan menghilang
-Jentik terkumpul ditempat-tempat yang tertutup tanaman air yang mengapung (ganggang/lumut), sampah yang terapung-apung dan pinggiran yang berumput
-Genangan air payau untuk berkembang biak adalah genangan terbuka dan mendapat sinar matahari langsung, genangan air yang terlindung oleh rimbunan tumbuhan pelindung akan menjadikan tempat yang tidak cocok untuk tempat perindukan
Slide 5

Slide 6
An.subpictus (Grassi, 1899)
-Lebih senang menghisap darah ternak daripada manusia
-Aktif menggigit sepanjang malam, meskipun paling banyak ditangkap antara pukul 22.00-23.00
-Pada malam hari nyamuk hinggap didinding baik sebelum dan sesudah menghisap darah
-Jentik nyamuk biasanya ditemukan bersama-sama An.sundaicus, keduanya berkembang biak di air payau, jentik An.subpictus lebih toleran terhadap kadar garam, sehingga dapat ditemukan ditempat yang mendekati tawar dan juga ditempat yang kadar garamnya cukup tinggi.


Slide 6
An.barbirostris (Van der Wulp, 1884)
-Di Sumatera dan Jawa nyamuk ini jarang dijumpai menggigit orang
-Aktif menggigit sepanjang malam, meskipun paling banyak ditangkap antara pukul 23.00-05.00
-Frekwensi mencari darah tiap tiga hari sekali
-Pada siang hari hanya sedikit yang dapat ditangkap didalam rumah, tempat istirahat nyamuk di alam luar, nyamuk hinggap pada pohon kopi, nanas serta tanaman perdu lainnya
-Tempat perindukan nyamuk yang utama adalah sawah dengan saluran irigasinya, kolam dan rawa-rawa


Slide 7
Anopheles balabacensis ( Baisas, 1936 ):
- Lebih tertarik menghisap darah orang daripada binatang, baik didalam rumah maupun di
luar rumah
- Keaktifan mencari darah terlambat,kebanyakan ditangkap setelah tengah malam sampai
pukul 04.00, meskipun sebenarnya sudah mulai terlihat sejak senja sampai pagi
- Sebelum dan sesudah menghisap darah pada malam hari banyak hinggap di dinding. Pada
siang hari tidak ditemukan istirahat di dalam rumah tetapi di alam luar ( hutan ) walau
tidak diketahui dimana nyamuk tersebut istirahat
- Tempat perindukan genangan air tawar didalam hutan ( permanen atau temporer ), di
genangan air tidak mengalir bekas tapak kaki, bekas roda, juga di pinggir sungai teruta
ma pada musim kemarau


Slide 7
Anopheles maculatus ( Theobaldt, 1901 ) :
- Lebih tertarik menghisap darah binatang daripada manusia
- Keaktifan mencari darah agak terlambat mulai pukul 21.00 – 03.00. Lebih banyak ditang
kap menggigit orang di luar rumah daripada didalam rumah
- Pagi hari istirahat di luar rumah, hinggap pada pohon kopi dan tanaman di tebing curam
- Mampu terbang sampai + 2 km
- Berkembang biak di pegunungan, tempat perindukan sungai kecil dengan air jernih, mata
air yang mendapat sinar matahari langsung dan lebih baik bila ada tanaman air. Di kolam
dengan air jernih juga ditemukan jentik, meskipun densitasnya rendah


Slide 8
Anopheles aconitus (Donitz, 1902)
§Pada umumnya lebih tertarik menghisap darah ternak, terutama kerbau dari pada manusia
§Aktif menggigit sepanjang malam, meskipun 80 % dari jumlah yang ditangkap sebelum tengah malam, paling banyak antara 18.00 – 22.00 (Banjarnegara, 1977)
§Lebih banyak ditangkap diluar rumah, pada malam hari hanya sedikit nyamuk yang hinggap di dinding rumah, masuk rumah untuk mencari darah dan langsung keluar
§Pada pagi hari banyak ditemukan di tebing sungai, hinggap di hulu tebing, dekat air yang selalu basah dan lembab, penangkapan pagi hari di dalam rumah/kandang hanya mendapatkan sedikit nyamuk, dan sebagian besar ditangkap didalam kandang, didalam rumah/kandang 80 % hinggap dibawah dinding pada ketinggian kurang satu meter
§Jarak terbang nyamuk betina cukup jauh, antara 1 – 2 km
§Tempat perindukan utama di sawah dan saluran irigasi, persawahan berteras adalah tempat yang baik untuk perkembangannya, di persawahan daerah datar yang airnya menggenang, masih ditemukan tetapi densitasnya tidak pernah tinggi
§Jentiknya ditemukan pula di tepi sungai yang airnya mengalir perlahan serta kolam air tawar yang agak alkalis
§Terdapat hubungan cukup kuat antara densitas An.aconitus dengan umur padi di sawah, densitas mulai meninggi setelah 3 - 4 minggu padi ditanam dan mencapai puncaknya setelah padi berumur 5 – 6 minggu
§Didaerah dengan pola tanam tidak teratur, desnitasnya tinggi sepanjang tahun, meski masih terlihat adanya puncak densitas pada bulan tertentu, di daerah cukup air, terlihat ada 2 puncak, puncak densitas pertama pada Maret/April dan puncak densitas kedua pada Agustus/September