Rabu, 10 November 2010

FAKTOR MANUSIA YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENULARAN DBD

Secara teoritis ada beberapa faktor yang berhubungan dengan penularan DBD, yaitu :
1. Kelompok Umur
Kelompok umur akan mempengaruhi peluang terjadinya penularan penyakit. Dari berbagai hasil penelitian menunjukan kelompok umur yang paling banyak terserang DBD adalah kelompok umur > 15 tahun (Gubler, D.J, 1988).
2. Suku bangsa / ras dan Kerentanan
Setiap suku bangsa/ras mempunyai sifat dan kebiasaan masing-masing yang berhubungan dengan penularan DBD. Hal ini berkaitan dengan keadaan sosial ekonomi, adat kebiasaan dan kebudayaan suatu masyarakat tertentu. Di Malaysia misalnya, DBD lebih banyak ditemukan di ras Cina dibandingkan dengan ras etnik lainnya (Lam, S.K, 1995) dan setiap individu mempunyai kerentanan yang berbeda-beda terhadap penyakit.
3. Keadaan sosial ekonomi
Kondisi sosial ekonomi mempengaruhi pola perilaku manusia yang menyebabkan transmisi Dengue, termasuk perilaku dalam penyimpanan air dalam rumah dan kepadatan manusia yang terjadi di pusat-pusat kota tropik yang memudahkan penularan. Sebagi contoh, kurangnya AC di daerah tropik membuat masyarakat duduk di luar rumah pada pagi dan sore hari, waktu diaman merupakan puncak nyamuk vektor Dengue aktif menggigit (Gulber, D.J. 1988).
4. Kepadatan penduduk dan Mobilitas penduduk
Dalam aspek kependudukan ternyata masalah kepadatan dan mobilitas penduduk yang padat akan memudahkan penularan DBD karena berkaitan dengan jarak terbang nyamuk penularnya. Dari beberapa hasil penelitian kejadian epidemi DBD banyak terjadi pada daerah berpenduduk padat. Pergerakan penduduk yang tinggi memudahkan penyebarluasan DBD dari satu tempat ke tempat lain. Sedangkan dalam aspek lingkungan prevalensi DBD sangat dipengaruhi oleh :
a. Kualitas pemukiman, jarak antar rumah, pencahayaan, bentuk rumah, bahan bangunan akan mempengaruhi penularan. Kualitas pemukiman yang kurang baik merupakan kondisi ideal untuk perkembangbiakan nyamuk vektor penyakit dan penularan penyakit.
b. Ketinggian tempat berpengaruh terhadap perkembangbiakan nyamuk dan virus DBD. Pada wilayah dengan ketinggian di atas 1.000 meter dari permukaan laut tidak ditemukan vektor penular DBD.
c. Curah hujan, akan menambah genangan air yang dapat dipakai sebagai tempat perindukan dan menambah kelembaban udara. Temperatur dan kelembaban selama musim hujan sangat kondusif untuk kelangsungan hidup nyamuk dewasa, yang juga meningkatkan kemungkinan kelangsungan hidup nyamuk yang terinfeksi. Peningkatan penularan DBD berhubungan dengan musim hujan (Gulber, D.J, 1988).

d. Iklim dan Temperatur berefek langsung terhadap aktifitas dan kemampuan vektor (Gulber D.J, 1988). Virus Dengue hanya endemik di wilayah-wilayah tropis dimana iklim dan temperatur memungkinkan untuk perkembangbiakan nyamuk. Temperatur tinggi sekitar 300C cenderung mempercepat replikasi virus.
e. Kepadatan nyamuk, perilaku dan kompetisi jumlah vektor nyamuk berpengaruh terhadap transmisi penularan. Ada 3 ukuran larva index yang digunakan yaitu house index, container index dan bruteau index. Ketiga index tersebut tidak ada yang memperlihatkan hubungan yang konsisten dengan penularan Dengue dalam hal nilai ambang. Beberapa petugas menggunakan batas 5% untuk house index Ae. Aegypti sebagai nilai ambang ungtuk penularan DBD (Gulber, D.J, 1988).
f. Program dan upaya pengawasan vektor nyamuk jangka panjang akan mempengaruhi terhadap perkembangbiakan vektor nyamuk dan penularan penyakit DBD.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar