Rabu, 07 Juli 2010

VEKTOR DBD

Vector penular penyakit DBD adalah nyamuk Aedes. Terdapat dua spesies Aedes yang menularkan virus dengue, yaitu Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kedua spesies ini ditemukan hamper di seluruh wilayah Indonesia, kecuali di wilayah dengan ketinggian > 1.000 m di atas permukaan laut. Di Indonesia Aedes aegypti merupakan vector utama yang paling berperan dalam penularan penyakit ini karena vektor tesebut hidup di dalam dan sekitar rumah sehingga kesempatan untuk kontak dengan manusia lebih besar, sedangkan Aedes albopictus hidup di kebun-kebun.
Nyamuk Aedes aegypti bias hidup di dekat manusia dan menyukai tempat-tempat gelap tersembunyi di dalam rumah sebagai tempat peristirahatannya. Larva nyamuk ini dapat ditemukan di dalam atau di dekat perumahan, di dalam kaleng atau tempat-tempat penyimpanan air yang relatif bersih yang digunakan untuk minum atau mandi. Sedangkan nyamuk Aedes albopictus berkembangbiak di dalam lubang-lubang pohon, lekukan tanaman, potongan batang bambu dan buah kelapa yang terbuka. Larvanya dapat hidup di dalam kaleng dan tempat penampungan air lainnya termasuk timbunan sampah di uara terbuka. Nyamuk tersebut memperoleh makanan dengan menghisap darah berbagai binatang.
Nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor penyakit DBD yang utama mempunyai sifat atau cirri-ciri sebagai berikut :
- Sangat domestik
- Senang tinggal di dalam ruangan
- Senang istirahat di tempat yang gelap dan lembab
- Senang hinggap pada benda-benda yang menggantung seperti baju, kelambu, dll.
- Menggigit pada pagi hari (09.00-12.00) dan sore hari (15.00-17.00).
- Hidup tersebar di daerah tropis dan dataran rendah. Tidak ditemukan pada ketinggian mulai 900 m di atas permukaan laut.
- Jarak terbang rata-rata 10-100 meter.

A. Morfopogi
Nyamuk Aedes aegypti dewasa berukuran lebih kecil dibandingkan dengan nyamuk Culex sp, memiliki warna dasar hitam dengan bintik-bintik putih pada nagian badannya terutama pada kaki dan dikenal dari bentuk morfologinya yang khas sebagai nyamuk yang mempunyai gambaran lira (lyre form) yang outih pada punggungnya. Probosis bersisik hitam palpi pendek dengan ujung hitam bersisik putih perak. Oksiput bersisik lebar, berwarna putih terletak memanjang. Tibia berwarna hitam seluruhnya. Tarsi belakang berlingkar putih pada segmen basal ke-1 sampai ke-4 dan ke-5 berwarna putih. Sayap bersisik hitam danmempunyai ukuran 2,5-3 mm.

B. Siklus Hidup Nyamuk
Nyamuk Aedes aegypti mengalami metamorfosia sempurna, yaitu telur-larva/jentik-pupa/kepompong-nyamuk dewasa. Nyamuk betina meletakan telurnya di atas permukaan airdalam keadaan menempel pada dinding tempat perindukannya. Stadium telur, larva dan pupa hidup di air. Seekor nyamuk betina dapat meletakan rata-rata 100 butir telur setiap kali bertelur.
Pada umumnya telur akan menetas menjadi larva/jentik dalam waktu kira-kira 2 hari setelat telur terendam air. Stadiumlarva/jentik biasanya berlangsung antara 2-4 hari. Pertumbuhan dari telur menjuadi nyamuk dewasa mencapai 9-10 hari. Suatu penelitian menunjukan bahwa rata-rata waktu yang diperlukan dalam stadium larva pada suhu 270 C adalah 6,4 hari dan pada suhu 23 – 260 C adalah 7 hari. Stadium berikutnya adalah pupa yang berlangsung 2 hari pada suhu 25 – 270 C. Kemudian selanjutnya menjadi dewasa dan melanjutkan siklus berikutnya. Dalam suasana yang optimal, perkembangan dari telur mejadi dewasa memerlukan waktu sedikitnya 9 hari. Umur nyamuk betina diperkirakan mencapai 2-3 bulan.


C. Habitat dan Tempat Berkembangbiak
Tempat perkembangbiakan yang disenangi oleh nyamuk Aedes aegypti adalah air jernih yang tidak berhubungan langsung dengan tanah dan berwarna gepal. Tempat berkembangbiak berada di dalam atau sekitar rumah maupun tempat-tempat umum dan biasanya tidak melebihi jarak 500 m dari rumah.
Tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti dibedakan menjadi :
 Tempat perindukan buatan, seperti bak air untuk wudhu, bak penampungan air, menara air, bak mandi/WC, drum/gentong/tempayan, buangan air kulkas atau dispenser, penampungan air bersih untuk minum/masak, vas bunga, perangkap semut, kaleng bekas, botol bekas, kendi di tempat pemakaman, tempat minum binatang, kotak meteran PAM, banbekas dan lain-lain.
 Tempat perindukan alami, seperti genangan air pada pelepah/ranting/dahan pohon, genangan air pada bambu/besi, batok kelapa dan lain-lain.

................

Tidak ada komentar:

Posting Komentar