Rabu, 07 Juli 2010

MASALAH TINJA

MASALAH TINJA/KOTORAN MANUSIA DI LINGKUNGAN KITA

Penanganan masalah Tinja bukan masalah sepela. Seseorang tiap harinya membuang tinja severat 125 – 250 gram. Jika saat ini penduduk Kec. Simpenan berjumlah sekitar 50.000 jiwa, maka setiap harinya bisa menghasilkan sekitar 12,5 ton tinja. Selain jumlahnya yang begitu banyak, tinja juga memiliki potensi dampak dari ke-4 kandungannya yang dapat merepotkan masyarakat :

1. MIKROBA
Tinja manusia mengandung mikrona yang sebagian diantaranya tergolong sebagai mikro patogen, seperti bakteri Salmonela typhi penyebab demam tifus, bakteri Vibrio cholera penyebab kolera, virus penyebab hepatitis A, dan vieus penyebab polio. Tinja manusia mengandung puluhan miliar mikroba, termasuk bakteri coli-tinja.
Tingkat pentyakit akibat kondisi sanitasi yang buruk di Indonesia sangat tinggi. Tifus mencapai 800 kasus per 100.000 penduduk, tertinggi di Asia. Diare mencapai 300 kasus per 1.000 penduduk. (ma’af itu data Depkes tahun 2006).


2. MATERI ORGANIK
Sebagian besar merupakan sisa dan ampas makanan yang tidak tercerna. Bentuknya dapat berupa karbohidrat, dapat pula berupaprotein, enzim, lemak, mikroba dan sel-sel mati. Akibatnya sekitar 75% sungai tercemar oleh materi organik dari buangan rumah penduduk. Air sungai yang tercemar bahan tersebut akan mengakibatkan air mengeluarkan bau tidak sedap dan berwarna hitam.

3. TELUR CACING
Seseorang yang cacingan akan mengeluarkan tinja yang mengandung telur-telur cacing. Beragam cacing dapat dijumpai di perut kita. Sebut aja cacing cambuk, cacing gelang, cacing tambang dan cacing kermi. Satu garam tinja berisi ribuan telur cacing yang siap berkembang biak di perut orang lain. Ma’af, anak cacingan adalah kejadian yang dianggap biasa di Indonesia. Penyakit ini kebanyakan diakibatkan cacing cambuk, cacing gelang, cacing kermi. Prevalensinya bisa mencapai 70 % dari balita.

4. NUTRIEN
Umumnya merupakan senyawa nitrogen (N) dan senyawa fosfat (P) yang dibawa sisa-sisa protein dan sel-sel mati. Nitrogen keluar dalam bentuk senyawa amonium, sedangkan fosfor dalam bentuk fosfat. Satu liter tinja manusia mengandung amonium sekittar 25 mg dan fosfat seberat 30 mg. Senyawa nutrien memacu pertumbuhan gangga (algae). Akibatnya, warna air menjadi hijau. Gangga menghabiskan oksigen dalam air sehingga ikan dan hewan air lainnya mati. Fenomena yang disebut eutrofikasi ini mudah dijumpai, termasuk di waduk, danau maupun kolam-kolam bahkan genangan air pembuangan yang tergenang yang tidak mengalir !!


Semua tahu, timja dapat membawa banyak masalah. Sayangnya, tidak semu amau dan mampu berbuat yang tepat. Berbagai contoh masalah sanitasi jamban dan tinja dapat kita jumpai di kawasan pemukiman. Jangan hanya menuding kawasan kumuh. Masalah sanitasi juga ada di wilayah pemukiman elit. Jangan juga hanya menuduh si miskin, masalah sanitasi dapat pula diakibatkan si mampu. Bahkan petugas juga bisa keliru. Misalnya ??

- MCK yang tidak berfungsi. Selain usang atau tidak terawat, banyak juga akibat tidak ada air. Yang lebih menyedihkan, ada MCK tidak pernah dapat dipergunakan sejak persemiannya. Boleh jadi akibat salah konstruksi atau mungkin masyarakatnya yang belum siap.

- Septic tank bocor. Akibatnya, sekitar 70% air tanah di daerah perkotaan sudah tercemar oleh bakteri coli-tinja. Padahal separuh penduduk perkotaan masih menggunakan air tanah untuk memenuhi kebutuhan air hariannya.
- Jamban yang asal-asalan. Ada 35% jamban di kawasan perkotaan yang tidak ada air bersih, tidak ada atap bahkan tidak tersambung ke septik tank atau sejenisnya. Contohnya, jamban “helikopter” di pinggiran sungai atau jamban rumah yang mengalirkan tinjanya ke sungai yang berada di dekatnya.
- Saluran seloka tersumbat. Walau harusnya mengalirkan air hujan, selokan nyatanya juga digunakan untuk menampung air kakis dan juga sampah. Akhirnya selokanpun jadi sarang dari berbagai sarang penyakit.
- Mencuci dan mandi disungai tercemar. Akibat keterbatasan akses air bersih penduduk maíz banyak yang menmanfaatkan air sungai untuk keperluan mandi dan mencuci. Padahal sungai-sungai tersebut umumnya sudah tercemar.
- Luang air besar sembarangan. Lebih dari 12 % penduduk perkotaan sama sekali tidak memiliki akses ke sarana jamban (bagaiaman yg di desa ¿?). artinya belasan juta penduduk perkotaan juga maíz membuang tinja langsung di kebun, sekolah, ataupun sungai.



TANPA JAMBAN PEREMPUAN LEBIH DIRUGIKAN

Suevei di Madang menunjukan bawhwa soal sanitasi merupakan prioritas nomor dua untuk kaum perempuan. Bagi kaum laki-laki, sanitasi hanya menempati prioritas ke delatan. Selain itu dalam banyak komunitas, perempuanlah yang mengusulkan bahwa keluarga harus memiliki jamban di rumah. Kenapa ??


Dibandingkan laki-laki, perempuan lebih butuh tempat yang aman dan nyaman untuk buang air, dan tempat itu harus bebas dari penglihatan orang lain. Itu sebabnya, perempuan lebih mendambakan adanya jamban yang tertutup, entah di dalam atau di dekat rumah. Seorang ibu juga ingin memastikan bahwa dirinya dan anknya bebas buang air kapan saja di tempat ayang aman, walaupun dilakukan di malam hari. Perempuan juga yang paling sering bertanggung jawab atas kebersihan jamban keluarga. Mereka akhirnya lebih tahu pilihan jamban yang paling tepat sesuai kebiasaan keluarga, ketersediaan air, dan lain sebagainya. Karena itu, perempuan patut dilibatkan dalam upaya peningkatan layanan sanitasi.


(Disadur dari : sanitasi, POTRET, HARAPAN DAN PELUANG, BAPENAS`2006)

Rumah Sehat

Rumah Sehat
Rumah pada dasarnya merupakan tempat hunian yang sangat penting bagi kehidupan setiap orang. Rumah tidak sekedar sebagai tempat untuk melepas lelah setelah bekerja seharian, namun didalamnya terkandung arti yang penting sebagai tempat untuk membangun kehidupan keluarga sehat dan sejahtera. Rumah yang sehat dan layak huni tidak harus berwujud rumah mewah dan besar namun rumah yang sederhana dapat juga menjadi rumah yang sehat dan layak dihuni Rumah sehat adalah kondisi fisik, kimia, biologi didalam rumah dan perumahan sehingga memungkinkan penghuni atau masyarakat memperoleh derajat kesehatan yang optimal. Untuk menciptakan rumah sehat maka diperlukan perhatian terhadap beberapa aspek yang sangat berpengaruh, antara lain:
a. Sirkulasi udara yang baik.
b. Penerangan yang cukup.
c. Air bersih terpenuhi.
d. Pembuangan air limbah diatur dengan baik agar tidak menimbulkan pencemaran.
e. Bagian-bagian ruang seperti lantai dan dinding tidak lembab serta tidakterpengaruh pencemaran seperti bau, rembesan air kotor maupun udara kotor.


PERSYARATAN RUMAH SEHAT
Persyaratan Kesehatan Rumah Tinggal menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : 829/Menkes/SK/VII/1999 adalah sebagai berikut:
1. Bahan Bangunan
a. Tidak terbuat dari bahan yang dapat melepaskan zat-zat yang dapat membahayakan kesehatan, antara lain sebagai berikut :
- Debu Total tidak lebih dari 150 µg m3
- Asbes bebas tidak melebihi 0,5 fiber/m3/4jam
- Timah hitam tidak melebihi 300 mg/kg
b. Tidak terbuat dari bahan yang dapat menjadi tumbuh dan berkembangnya mikroorganisme patogen.

2. Komponen dan penataan ruang rumah
Komponen rumah harus memenuhi persyaratan fisik dan biologis sebagai berikut:
a. Lantai kedap air dan mudah dibersihkan
b. Dinding
- Di ruang tidur, ruang keluarga dilengkapi dengan sarana ventilasi untuk pengaturan sirkulasi udara
- Di kamar mandi dan tempat cuci harus kedap air dan mudah dibersihkan
c. Langit-langit harus mudah dibersihkan dan tidak rawan kecelakaan
d. Bumbung rumah yang memiliki tinggi 10 meter atau lebih harus dilengkapi dengan penangkal petir
e. Ruang di dalam rumah harus ditata agar berfungsi sebagai ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, ruang tidur, ruang dapur, ruang mandi dan ruang bermain anak.
f. Ruang dapur harus dilengkapi dengan sarana pembuangan asap.

3. Pencahayaan
Pencahayaan alam atau buatan langsung atau tidak langsung dapat menerangi seluruh bagian ruangan minimal intensitasnya 60 lux dan tidak menyilaukan.

4. Kualitas Udara
Kualitas udara di dalam rumah tidak melebihi ketentuan sebagai berikut :
a. Suhu udara nyaman berkisar antara l8°C sampai 30°C
b. Kelembaban udara berkisar antara 40% sampai 70%
c. Konsentrasi gas SO2 tidak melebihi 0,10 ppm/24 jam
d. Pertukaran udara
e. Konsentrasi gas CO tidak melebihi 100 ppm/8jam
f. Konsentrasi gas formaldehide tidak melebihi 120 mg/m3
5. Ventilasi
Luas penghawaan atau ventilasi a1amiah yang permanen minimal 10% dari luas lantai.

6. Binatang penular penyakit
Tidak ada tikus, kecoa bersarang di rumah.

7. Air
a. Tersedia air bersih dengan kapasitas minmal 60 lt/hari/orang
b. Kualitas air harus memenuhi persyaratan kesehatan air bersih dan air minum sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
8. Tersediannya sarana penyimpanan makanan yang aman dan hygiene.
9. Limbah
b. Limbah cair berasal dari rumah, tidak mencemari sumber air, tidak menimbulkan bau dan tidak mencemari permukaan tanah.
c. Limbah padat harus dikelola agar tidak menimbulkan bau, tidak menyebabkan pencemaran terhadap permukaan tanah dan air tanah.

10. Kepadatan hunian ruang tidur
Luas ruang tidur minimal 8m2 dan tidak dianjurkan digunakan lebih dari dua orang tidur dalam satu ruang tidur, kecuali anak dibawah umur 5 tahun.
Masalah perumahan telah diatur dalam Undang-Undang pemerintahan tentang perumahan dan pemukiman No.4/l992 bab III pasal 5 ayat l yang berbunyi “Setiap warga negara mempunyai hak untuk menempati dan atau menikmati dan atau memiliki rumah yang layak dan lingkungan yang sehat, aman , serasi, dan teratur”
Bila dikaji lebih lanjut maka sudah sewajarnya seluruh lapisan masyarakat menempati rumah yang sehat dan layak huni. Rumah tidak cukup hanya sebagai tempat tinggal dan berlindung dari panas cuaca dan hujan, Rumah harus mempunyai fungsi sebagai :
 Mencegah terjadinya penyakit
 Mencegah terjadinya kecelakaan
 Aman dan nyaman bagi penghuninya
 Penurunan ketegangan jiwa dan sosial

Kamis, 01 Juli 2010

Vektor Malaria


TEMPAT PERINDUKAN NYAMUK MALARIA




Peran suatu spesies sebagai vektor malaria dapat diperkirakan dengan melihat aspek bionomik (Takken, 1991) :

  1. Kepadatan spesies
  2. Umur nyamuk (longevity)
  3. Kerentanan spesies terhadap infeksi malaria lokal dan kemampuannya untuk menyebarkan penyakit malaria
  4. Perilaku mencari mangsa (antrofilik - zoofilik)
  5. Perilaku istrrahat (eksofilik - endofilik)
  6. Tempat mencari mangsa (eksofagik - endofagik)
  7. Penyebaran
  8. Musim dan Iklim

Vektor utama di Indonesia :
- An. sundaicus
- An. subciptus
- An. barbirostris
- An. balabacensis
- An. maculatus
- An. aconitus

Anopheles sundaicusSlide 5
(Rodenwaldt, 1925) :
-Lebih senang menghisap darah orang daripada binatang
-Aktif menggigit sepanjang malam, tetapi paling banyak ditangkap antara pukul 22.00 - 01.00
-Lebih banyak ditemukan menggigit orang diluar rumah daripada didalam rumah
-Pada waktu malam nyamuk masuk kedalam rumah untuk mencari darah, hinggap di dinding baik sebelum maupun sesudah menghisap darah, perilaku istirahat nyamuk ini sangat berbeda antara satu dengan lokasi lainnya
-Jarak terbang nyamuk betina cukup jauh, pernah dapat ditangkap di tempat lebih 3 km dari tempat perindukan (Garut, 1981)
-Berkembang biak di air payau, dengan kadar garam optimum antara 12 – 18 ‰, meski tidak begitu tinggi, jentik nyamuk dapat ditemukan pada kadar garam dibawah 5 ‰, dan bila kadar garam mencapai 40 ‰, maka jentik akan menghilang
-Jentik terkumpul ditempat-tempat yang tertutup tanaman air yang mengapung (ganggang/lumut), sampah yang terapung-apung dan pinggiran yang berumput
-Genangan air payau untuk berkembang biak adalah genangan terbuka dan mendapat sinar matahari langsung, genangan air yang terlindung oleh rimbunan tumbuhan pelindung akan menjadikan tempat yang tidak cocok untuk tempat perindukan
Slide 5

Slide 6
An.subpictus (Grassi, 1899)
-Lebih senang menghisap darah ternak daripada manusia
-Aktif menggigit sepanjang malam, meskipun paling banyak ditangkap antara pukul 22.00-23.00
-Pada malam hari nyamuk hinggap didinding baik sebelum dan sesudah menghisap darah
-Jentik nyamuk biasanya ditemukan bersama-sama An.sundaicus, keduanya berkembang biak di air payau, jentik An.subpictus lebih toleran terhadap kadar garam, sehingga dapat ditemukan ditempat yang mendekati tawar dan juga ditempat yang kadar garamnya cukup tinggi.


Slide 6
An.barbirostris (Van der Wulp, 1884)
-Di Sumatera dan Jawa nyamuk ini jarang dijumpai menggigit orang
-Aktif menggigit sepanjang malam, meskipun paling banyak ditangkap antara pukul 23.00-05.00
-Frekwensi mencari darah tiap tiga hari sekali
-Pada siang hari hanya sedikit yang dapat ditangkap didalam rumah, tempat istirahat nyamuk di alam luar, nyamuk hinggap pada pohon kopi, nanas serta tanaman perdu lainnya
-Tempat perindukan nyamuk yang utama adalah sawah dengan saluran irigasinya, kolam dan rawa-rawa


Slide 7
Anopheles balabacensis ( Baisas, 1936 ):
- Lebih tertarik menghisap darah orang daripada binatang, baik didalam rumah maupun di
luar rumah
- Keaktifan mencari darah terlambat,kebanyakan ditangkap setelah tengah malam sampai
pukul 04.00, meskipun sebenarnya sudah mulai terlihat sejak senja sampai pagi
- Sebelum dan sesudah menghisap darah pada malam hari banyak hinggap di dinding. Pada
siang hari tidak ditemukan istirahat di dalam rumah tetapi di alam luar ( hutan ) walau
tidak diketahui dimana nyamuk tersebut istirahat
- Tempat perindukan genangan air tawar didalam hutan ( permanen atau temporer ), di
genangan air tidak mengalir bekas tapak kaki, bekas roda, juga di pinggir sungai teruta
ma pada musim kemarau


Slide 7
Anopheles maculatus ( Theobaldt, 1901 ) :
- Lebih tertarik menghisap darah binatang daripada manusia
- Keaktifan mencari darah agak terlambat mulai pukul 21.00 – 03.00. Lebih banyak ditang
kap menggigit orang di luar rumah daripada didalam rumah
- Pagi hari istirahat di luar rumah, hinggap pada pohon kopi dan tanaman di tebing curam
- Mampu terbang sampai + 2 km
- Berkembang biak di pegunungan, tempat perindukan sungai kecil dengan air jernih, mata
air yang mendapat sinar matahari langsung dan lebih baik bila ada tanaman air. Di kolam
dengan air jernih juga ditemukan jentik, meskipun densitasnya rendah


Slide 8
Anopheles aconitus (Donitz, 1902)
§Pada umumnya lebih tertarik menghisap darah ternak, terutama kerbau dari pada manusia
§Aktif menggigit sepanjang malam, meskipun 80 % dari jumlah yang ditangkap sebelum tengah malam, paling banyak antara 18.00 – 22.00 (Banjarnegara, 1977)
§Lebih banyak ditangkap diluar rumah, pada malam hari hanya sedikit nyamuk yang hinggap di dinding rumah, masuk rumah untuk mencari darah dan langsung keluar
§Pada pagi hari banyak ditemukan di tebing sungai, hinggap di hulu tebing, dekat air yang selalu basah dan lembab, penangkapan pagi hari di dalam rumah/kandang hanya mendapatkan sedikit nyamuk, dan sebagian besar ditangkap didalam kandang, didalam rumah/kandang 80 % hinggap dibawah dinding pada ketinggian kurang satu meter
§Jarak terbang nyamuk betina cukup jauh, antara 1 – 2 km
§Tempat perindukan utama di sawah dan saluran irigasi, persawahan berteras adalah tempat yang baik untuk perkembangannya, di persawahan daerah datar yang airnya menggenang, masih ditemukan tetapi densitasnya tidak pernah tinggi
§Jentiknya ditemukan pula di tepi sungai yang airnya mengalir perlahan serta kolam air tawar yang agak alkalis
§Terdapat hubungan cukup kuat antara densitas An.aconitus dengan umur padi di sawah, densitas mulai meninggi setelah 3 - 4 minggu padi ditanam dan mencapai puncaknya setelah padi berumur 5 – 6 minggu
§Didaerah dengan pola tanam tidak teratur, desnitasnya tinggi sepanjang tahun, meski masih terlihat adanya puncak densitas pada bulan tertentu, di daerah cukup air, terlihat ada 2 puncak, puncak densitas pertama pada Maret/April dan puncak densitas kedua pada Agustus/September