Masa yang paling menentukan dalam proses tumbuh kembang seorang anak ialah masa di dalam kandungan ibunya dan kira-kira dua tahun sesudahnya, pada saat mana sel otak sedang tumbuh dan menyempurnakan diri secara pesat sekali untuk kemudian bertambah lambat sedikit demi sedikit sampai anak berumur 5 tahun.
Dapat dimengerti bahwa dalam upaya menurunkan masalah tumbuh kembang seorang anak harus dilakukan upaya pencegahan sedini mungkin, yakni sejak pembuahan, janin di dalam kandungan ibu, pada saat persalinan sampai dengan masa-masa kritis proses tumbuh kembang manusia yaitu masa di bawah usia lima tahun.
1. Pengertian Deteksi Dini Tumbuh Kembang balita
Deteksi dini merupakan upaya penjaringan yang dilaksanakan secara komprehensif untuk menemukan penyimpangan tumbuh kembang dan mengetahui serta mengenal faktor resiko (fisik,biomedik,psikososial) pada balita.
2. Kegunaan deteksi dini tumbuh kembang balita
Kegunaannya adalah untuk mengetahui penyimpangan tumbuh kembang balita secara dini, sehingga upaya pencegahan, upaya stimulasi dan penyembuhan serta memulihkan dapat dapat diberikan dengan indikasi yang jelas sedini mungkin pada masa-masa kritis proses tumbuh kembang. Upaya-upaya tersebut diberikan diberikan sesuai dengan umur perkembangan anak, dengan demikian dapat tercapai kondisi tumbuh kembang yang optimal.
3. Pelaksanaan deteksi dini tumbuh kembang balita
Upaya deteksi dini dapat dilaksanakan oleh tenaga propesional, kader dan orang tua atau anggota keluarga lain yang mampu dan terampil dalam melaksanakan deteksi dini. Kegiatan ini dapat dilakukan di pusat-pusat pelayanan kesehatan, posyandu, di sekolah-sekolah dan lingkungan rumah tangga.
4. Alat untuk melakukan deteksi dini tumbuh kembang balita
Alat untuk deteksi dini tumbuh kembang balia ini berupa tes skrining yang telah distandarisasi untuk menjaring anak yang mempunyai kelainan dari mereka yang normal. Tes skrining yang peka, dapat meramalkan keadaan anak dikemudian hari
Rabu, 10 November 2010
BAHAYA ROKOK ??
Apa sih bahaya merokok? Pertanyaan ini pasti banyak berputar disekitar kalian yang belom tau jawabannya, ehhmm, kalo yang udah tau jawabannya yach udah ga’ papa Hehehe, oche dee, ini nie mo dibagiin bahaya merokok dan bahan pembuat rokok yang perlu kalian tahu.
Rokok bisa bikin kecanduan, bahkan bisa lebih parah daripada bahaya narkoba. Banyak dari kita meremehkan bahaya rokok buat kesehatan kita dan dengan pasti meyakinkan pada orang yang melarang bahwa kita bisa berhenti suatu saat. Hmmmh, kenyataannya siswa SMU yang ngerokok 1-5 batang sehari, 70 % masih ngerokok 5 taon kemudian. Lebih dari separo yang ngerokok sejak SMP bahkan ga’ berhasil berhenti merokok (hmm…apa ini pengaruh iklan rokok ya?).
Sedikit catatan bagi Perokok Aktif :
Semakin muda seseorang mulai merokok, maka semakin besar peluangnya menjadi perokok berat pas udah gedhe ato dewasa.
Bahaya Merokok :
• Asap Rokok mengandung 4o bahan kimia penyebab kanker, sejumlah kecil racun seperti arsenikum, dan sianida serta lebih dari 4000 bahan kimia lain.
• Saat merokok, serangkaian bahan kimiawi ini menjelajah ke organ vital tubuh macam otak, paru-paru, jantung dan pembuluh darah. Udah gitu, tubuh kita jadi terpolusi bahan kimiawi yang bisa memicu Kanker dan Kecanduan.
• (Sttt… banyak yang tau, merokok dan kanker paru-paru itu berhubungan erat. Belom lagi kematian akibat merokok yang banyak ditemukan).
• Asap rokok juga mengandung Karbon Monoksida yang kalo dihirup bakalan nge-ganti fungsi Oksigen di sel – sel darah terus ngambil zat makanan dari jantung, otak, dan organ tubuh lain. Selain itu, dengan merokok, kita juga mematikan indra pengecap dan pencium sehingga kita ga’ bisa lagi ngerasain lezatnya makanan seperti biasanya.
• Unsur utama dalam rokok yaitu Nikotin. Nikotin ini ngerangsang zat kimia di otak yang mengakibatkan kecanduan. Zat kimia ini merangsang kelenjar adrenalin untuk memproduksi hormon yang mengganggu jantung akibat tekanan darah dan denyut jantung meningkat.
Belom lagi orang-orang disekitar kita yang ikut juga terkena asap rokok meski mereka sendiri ga’ ngerokok. Mereka ini disebut Perokok Pasif.
Bahaya Perokok Pasif :
• Berisiko juga terkena kanker paru-paru dan penyakit jantung.
• Bagi perokok pasif yang menderita penyakit pernafasan atau penyakit jantung, serta orang tua, mereka bahkan lebih rentan dengan asap rokok yang kita hembusin.
• Anak-anak berusia kurang dari 1 taon juga bakal lebih sering masuk Rumah Sakit karena ganguan penyakit pernafasan.
• Selain itu, anak-anak yang jadi perokok pasif juga beresiko menderita infeksi telinga, pneumonia, dan bronkitis.
• Terakhir, seorang ibu yang merokok – selama dan setelah kehamilan – berisiko 3x lebih besar menyebabkan sang bayi meninggal akibat sindrom kematian mendadak.
Rokok bisa bikin kecanduan, bahkan bisa lebih parah daripada bahaya narkoba. Banyak dari kita meremehkan bahaya rokok buat kesehatan kita dan dengan pasti meyakinkan pada orang yang melarang bahwa kita bisa berhenti suatu saat. Hmmmh, kenyataannya siswa SMU yang ngerokok 1-5 batang sehari, 70 % masih ngerokok 5 taon kemudian. Lebih dari separo yang ngerokok sejak SMP bahkan ga’ berhasil berhenti merokok (hmm…apa ini pengaruh iklan rokok ya?).
Sedikit catatan bagi Perokok Aktif :
Semakin muda seseorang mulai merokok, maka semakin besar peluangnya menjadi perokok berat pas udah gedhe ato dewasa.
Bahaya Merokok :
• Asap Rokok mengandung 4o bahan kimia penyebab kanker, sejumlah kecil racun seperti arsenikum, dan sianida serta lebih dari 4000 bahan kimia lain.
• Saat merokok, serangkaian bahan kimiawi ini menjelajah ke organ vital tubuh macam otak, paru-paru, jantung dan pembuluh darah. Udah gitu, tubuh kita jadi terpolusi bahan kimiawi yang bisa memicu Kanker dan Kecanduan.
• (Sttt… banyak yang tau, merokok dan kanker paru-paru itu berhubungan erat. Belom lagi kematian akibat merokok yang banyak ditemukan).
• Asap rokok juga mengandung Karbon Monoksida yang kalo dihirup bakalan nge-ganti fungsi Oksigen di sel – sel darah terus ngambil zat makanan dari jantung, otak, dan organ tubuh lain. Selain itu, dengan merokok, kita juga mematikan indra pengecap dan pencium sehingga kita ga’ bisa lagi ngerasain lezatnya makanan seperti biasanya.
• Unsur utama dalam rokok yaitu Nikotin. Nikotin ini ngerangsang zat kimia di otak yang mengakibatkan kecanduan. Zat kimia ini merangsang kelenjar adrenalin untuk memproduksi hormon yang mengganggu jantung akibat tekanan darah dan denyut jantung meningkat.
Belom lagi orang-orang disekitar kita yang ikut juga terkena asap rokok meski mereka sendiri ga’ ngerokok. Mereka ini disebut Perokok Pasif.
Bahaya Perokok Pasif :
• Berisiko juga terkena kanker paru-paru dan penyakit jantung.
• Bagi perokok pasif yang menderita penyakit pernafasan atau penyakit jantung, serta orang tua, mereka bahkan lebih rentan dengan asap rokok yang kita hembusin.
• Anak-anak berusia kurang dari 1 taon juga bakal lebih sering masuk Rumah Sakit karena ganguan penyakit pernafasan.
• Selain itu, anak-anak yang jadi perokok pasif juga beresiko menderita infeksi telinga, pneumonia, dan bronkitis.
• Terakhir, seorang ibu yang merokok – selama dan setelah kehamilan – berisiko 3x lebih besar menyebabkan sang bayi meninggal akibat sindrom kematian mendadak.
FAKTOR MANUSIA YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENULARAN DBD
Secara teoritis ada beberapa faktor yang berhubungan dengan penularan DBD, yaitu :
1. Kelompok Umur
Kelompok umur akan mempengaruhi peluang terjadinya penularan penyakit. Dari berbagai hasil penelitian menunjukan kelompok umur yang paling banyak terserang DBD adalah kelompok umur > 15 tahun (Gubler, D.J, 1988).
2. Suku bangsa / ras dan Kerentanan
Setiap suku bangsa/ras mempunyai sifat dan kebiasaan masing-masing yang berhubungan dengan penularan DBD. Hal ini berkaitan dengan keadaan sosial ekonomi, adat kebiasaan dan kebudayaan suatu masyarakat tertentu. Di Malaysia misalnya, DBD lebih banyak ditemukan di ras Cina dibandingkan dengan ras etnik lainnya (Lam, S.K, 1995) dan setiap individu mempunyai kerentanan yang berbeda-beda terhadap penyakit.
3. Keadaan sosial ekonomi
Kondisi sosial ekonomi mempengaruhi pola perilaku manusia yang menyebabkan transmisi Dengue, termasuk perilaku dalam penyimpanan air dalam rumah dan kepadatan manusia yang terjadi di pusat-pusat kota tropik yang memudahkan penularan. Sebagi contoh, kurangnya AC di daerah tropik membuat masyarakat duduk di luar rumah pada pagi dan sore hari, waktu diaman merupakan puncak nyamuk vektor Dengue aktif menggigit (Gulber, D.J. 1988).
4. Kepadatan penduduk dan Mobilitas penduduk
Dalam aspek kependudukan ternyata masalah kepadatan dan mobilitas penduduk yang padat akan memudahkan penularan DBD karena berkaitan dengan jarak terbang nyamuk penularnya. Dari beberapa hasil penelitian kejadian epidemi DBD banyak terjadi pada daerah berpenduduk padat. Pergerakan penduduk yang tinggi memudahkan penyebarluasan DBD dari satu tempat ke tempat lain. Sedangkan dalam aspek lingkungan prevalensi DBD sangat dipengaruhi oleh :
a. Kualitas pemukiman, jarak antar rumah, pencahayaan, bentuk rumah, bahan bangunan akan mempengaruhi penularan. Kualitas pemukiman yang kurang baik merupakan kondisi ideal untuk perkembangbiakan nyamuk vektor penyakit dan penularan penyakit.
b. Ketinggian tempat berpengaruh terhadap perkembangbiakan nyamuk dan virus DBD. Pada wilayah dengan ketinggian di atas 1.000 meter dari permukaan laut tidak ditemukan vektor penular DBD.
c. Curah hujan, akan menambah genangan air yang dapat dipakai sebagai tempat perindukan dan menambah kelembaban udara. Temperatur dan kelembaban selama musim hujan sangat kondusif untuk kelangsungan hidup nyamuk dewasa, yang juga meningkatkan kemungkinan kelangsungan hidup nyamuk yang terinfeksi. Peningkatan penularan DBD berhubungan dengan musim hujan (Gulber, D.J, 1988).
d. Iklim dan Temperatur berefek langsung terhadap aktifitas dan kemampuan vektor (Gulber D.J, 1988). Virus Dengue hanya endemik di wilayah-wilayah tropis dimana iklim dan temperatur memungkinkan untuk perkembangbiakan nyamuk. Temperatur tinggi sekitar 300C cenderung mempercepat replikasi virus.
e. Kepadatan nyamuk, perilaku dan kompetisi jumlah vektor nyamuk berpengaruh terhadap transmisi penularan. Ada 3 ukuran larva index yang digunakan yaitu house index, container index dan bruteau index. Ketiga index tersebut tidak ada yang memperlihatkan hubungan yang konsisten dengan penularan Dengue dalam hal nilai ambang. Beberapa petugas menggunakan batas 5% untuk house index Ae. Aegypti sebagai nilai ambang ungtuk penularan DBD (Gulber, D.J, 1988).
f. Program dan upaya pengawasan vektor nyamuk jangka panjang akan mempengaruhi terhadap perkembangbiakan vektor nyamuk dan penularan penyakit DBD.
1. Kelompok Umur
Kelompok umur akan mempengaruhi peluang terjadinya penularan penyakit. Dari berbagai hasil penelitian menunjukan kelompok umur yang paling banyak terserang DBD adalah kelompok umur > 15 tahun (Gubler, D.J, 1988).
2. Suku bangsa / ras dan Kerentanan
Setiap suku bangsa/ras mempunyai sifat dan kebiasaan masing-masing yang berhubungan dengan penularan DBD. Hal ini berkaitan dengan keadaan sosial ekonomi, adat kebiasaan dan kebudayaan suatu masyarakat tertentu. Di Malaysia misalnya, DBD lebih banyak ditemukan di ras Cina dibandingkan dengan ras etnik lainnya (Lam, S.K, 1995) dan setiap individu mempunyai kerentanan yang berbeda-beda terhadap penyakit.
3. Keadaan sosial ekonomi
Kondisi sosial ekonomi mempengaruhi pola perilaku manusia yang menyebabkan transmisi Dengue, termasuk perilaku dalam penyimpanan air dalam rumah dan kepadatan manusia yang terjadi di pusat-pusat kota tropik yang memudahkan penularan. Sebagi contoh, kurangnya AC di daerah tropik membuat masyarakat duduk di luar rumah pada pagi dan sore hari, waktu diaman merupakan puncak nyamuk vektor Dengue aktif menggigit (Gulber, D.J. 1988).
4. Kepadatan penduduk dan Mobilitas penduduk
Dalam aspek kependudukan ternyata masalah kepadatan dan mobilitas penduduk yang padat akan memudahkan penularan DBD karena berkaitan dengan jarak terbang nyamuk penularnya. Dari beberapa hasil penelitian kejadian epidemi DBD banyak terjadi pada daerah berpenduduk padat. Pergerakan penduduk yang tinggi memudahkan penyebarluasan DBD dari satu tempat ke tempat lain. Sedangkan dalam aspek lingkungan prevalensi DBD sangat dipengaruhi oleh :
a. Kualitas pemukiman, jarak antar rumah, pencahayaan, bentuk rumah, bahan bangunan akan mempengaruhi penularan. Kualitas pemukiman yang kurang baik merupakan kondisi ideal untuk perkembangbiakan nyamuk vektor penyakit dan penularan penyakit.
b. Ketinggian tempat berpengaruh terhadap perkembangbiakan nyamuk dan virus DBD. Pada wilayah dengan ketinggian di atas 1.000 meter dari permukaan laut tidak ditemukan vektor penular DBD.
c. Curah hujan, akan menambah genangan air yang dapat dipakai sebagai tempat perindukan dan menambah kelembaban udara. Temperatur dan kelembaban selama musim hujan sangat kondusif untuk kelangsungan hidup nyamuk dewasa, yang juga meningkatkan kemungkinan kelangsungan hidup nyamuk yang terinfeksi. Peningkatan penularan DBD berhubungan dengan musim hujan (Gulber, D.J, 1988).
d. Iklim dan Temperatur berefek langsung terhadap aktifitas dan kemampuan vektor (Gulber D.J, 1988). Virus Dengue hanya endemik di wilayah-wilayah tropis dimana iklim dan temperatur memungkinkan untuk perkembangbiakan nyamuk. Temperatur tinggi sekitar 300C cenderung mempercepat replikasi virus.
e. Kepadatan nyamuk, perilaku dan kompetisi jumlah vektor nyamuk berpengaruh terhadap transmisi penularan. Ada 3 ukuran larva index yang digunakan yaitu house index, container index dan bruteau index. Ketiga index tersebut tidak ada yang memperlihatkan hubungan yang konsisten dengan penularan Dengue dalam hal nilai ambang. Beberapa petugas menggunakan batas 5% untuk house index Ae. Aegypti sebagai nilai ambang ungtuk penularan DBD (Gulber, D.J, 1988).
f. Program dan upaya pengawasan vektor nyamuk jangka panjang akan mempengaruhi terhadap perkembangbiakan vektor nyamuk dan penularan penyakit DBD.
Desa Siaga
Desa Siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri. Sebuah Desa dikatakan menjadi desa siaga apabila desa tersebut telah memiliki sekurang-kurangnya sebuah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) (Kepmenkes No.564/2006).
Poskesdes adalah Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dibentuk di desa dalam rangka mendekatkan/menyediakan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat desa. UKBM yang sudah dikenal luas oleh masyarakat yaitu Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), Warung Obat Desa, Pondok Persalinan Desa (Polindes), Kelompok Pemakai Air, Arisan Jamban Keluarga dan lain-lain (Depkes, 2007).
Untuk dapat menyediakan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat desa, Poskesdes memiliki kegiatan :
1) Pengamatan epidemiologi sederhana terhadap penyakit terutama penyakit menular yang berpotensi menimbulkan
2) Kejadian Luar Biasa (KLB) dan faktor resikonya termasuk status gizi serta kesehatan ibu hamil yang beresiko.
3) Penanggulangan penyakit, terutama penyakit menular dan penyakit yang berpotensi menimbulkan KLB serta faktor resikonya termasuk kurang gizi.
4) Kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana dan kegawatdarutan kesehatan.
5) Pelayanan medis dasar sesuai dengan kompetensinya.
6) Promosi kesehatan untuk peningkatan keluarga sadar gizi, peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), penyehatan lingkungan dan lain-lain.
Dengan demikian Poskesdes diharapkan sebagai pusat pengembangan atau revitalisasi berbagai UKBM yang ada di masyarakat desa. Dalam melaksanakan kegiatan tersebut, Poskesdes harus didukung oleh sumber daya seperti tenaga kesehatan (minimal seorang bidan) dengan dibantu oleh sekurang-kurangnya 2 orang kader. Selain itu juga harus disediakan sarana fisik berupa bangunan, perlengkapan dan peralatan kesehatan serta sarana komunikasi seperti telepon, ponsel atau kurir.
Untuk sarana fisik Poskesdes dapat dilaksanakan melalui berbagai cara/alternatif yaitu mengembangkan Polindes yang telah ada menjadi Poskesdes, memanfaatkan bangunan yang sudah ada misalnya Balai Warga/RW, Balai Desa dan lain-lain serta membangun baru yaitu dengan pendanaan dari Pemerintah (Pusat atau Daerah), donatur, dunia usaha, atau swadaya masyarakat.
Kriteria desa siaga meliputi :
1) Adanya forum masyarakat desa
2) Adanya pelayanan kesehatan dasar
3) Adanya UKBM Mandiri yang dibutuhkan masyarakat desa setempat
4) Dibina Puskesmas Poned
5) Memiliki system surveilans (faktor resiko dan penyakit) berbasis masyarakat.
6) Memiliki system kewaspadaan dan kegawat daruratan bencana berbasis masyarakat.
7) Memiliki system pembiayaan kesehatan berbasis masyarakat.
8) Memiliki lingkungan yang sehat.
9) Masyarakatnya ber perilaku hidup bersih dan sehat.
Tahapan desa siaga :
1) Bina yaitu desa yang baru memiliki forum masyarakat desa, pelayanan kesehatan dasar, serta ada UKBM Mandiri.
2) Tumbuh yaitu desa yang sudah lebih lengkap dengan criteria pada tahapan bina ditambah dengan dibina oeh puskesmas Poned, serta telah memiliki system surveilans yang berbasis masyarakat.
3) Kembang yaitu desa dengan criteria tumbuh dan memiliki system kewaspadaan dan kegawatdaruratan bencana serta system pembiayaan kesehatan berbasis masyarakat yang telah berjalan.
4) Paripurna yaitu desa yang telah memiliki seluruh criteria desa siaga.
Poskesdes adalah Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dibentuk di desa dalam rangka mendekatkan/menyediakan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat desa. UKBM yang sudah dikenal luas oleh masyarakat yaitu Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), Warung Obat Desa, Pondok Persalinan Desa (Polindes), Kelompok Pemakai Air, Arisan Jamban Keluarga dan lain-lain (Depkes, 2007).
Untuk dapat menyediakan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat desa, Poskesdes memiliki kegiatan :
1) Pengamatan epidemiologi sederhana terhadap penyakit terutama penyakit menular yang berpotensi menimbulkan
2) Kejadian Luar Biasa (KLB) dan faktor resikonya termasuk status gizi serta kesehatan ibu hamil yang beresiko.
3) Penanggulangan penyakit, terutama penyakit menular dan penyakit yang berpotensi menimbulkan KLB serta faktor resikonya termasuk kurang gizi.
4) Kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana dan kegawatdarutan kesehatan.
5) Pelayanan medis dasar sesuai dengan kompetensinya.
6) Promosi kesehatan untuk peningkatan keluarga sadar gizi, peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), penyehatan lingkungan dan lain-lain.
Dengan demikian Poskesdes diharapkan sebagai pusat pengembangan atau revitalisasi berbagai UKBM yang ada di masyarakat desa. Dalam melaksanakan kegiatan tersebut, Poskesdes harus didukung oleh sumber daya seperti tenaga kesehatan (minimal seorang bidan) dengan dibantu oleh sekurang-kurangnya 2 orang kader. Selain itu juga harus disediakan sarana fisik berupa bangunan, perlengkapan dan peralatan kesehatan serta sarana komunikasi seperti telepon, ponsel atau kurir.
Untuk sarana fisik Poskesdes dapat dilaksanakan melalui berbagai cara/alternatif yaitu mengembangkan Polindes yang telah ada menjadi Poskesdes, memanfaatkan bangunan yang sudah ada misalnya Balai Warga/RW, Balai Desa dan lain-lain serta membangun baru yaitu dengan pendanaan dari Pemerintah (Pusat atau Daerah), donatur, dunia usaha, atau swadaya masyarakat.
Kriteria desa siaga meliputi :
1) Adanya forum masyarakat desa
2) Adanya pelayanan kesehatan dasar
3) Adanya UKBM Mandiri yang dibutuhkan masyarakat desa setempat
4) Dibina Puskesmas Poned
5) Memiliki system surveilans (faktor resiko dan penyakit) berbasis masyarakat.
6) Memiliki system kewaspadaan dan kegawat daruratan bencana berbasis masyarakat.
7) Memiliki system pembiayaan kesehatan berbasis masyarakat.
8) Memiliki lingkungan yang sehat.
9) Masyarakatnya ber perilaku hidup bersih dan sehat.
Tahapan desa siaga :
1) Bina yaitu desa yang baru memiliki forum masyarakat desa, pelayanan kesehatan dasar, serta ada UKBM Mandiri.
2) Tumbuh yaitu desa yang sudah lebih lengkap dengan criteria pada tahapan bina ditambah dengan dibina oeh puskesmas Poned, serta telah memiliki system surveilans yang berbasis masyarakat.
3) Kembang yaitu desa dengan criteria tumbuh dan memiliki system kewaspadaan dan kegawatdaruratan bencana serta system pembiayaan kesehatan berbasis masyarakat yang telah berjalan.
4) Paripurna yaitu desa yang telah memiliki seluruh criteria desa siaga.
Langganan:
Komentar (Atom)